banner3

Menjadi orang tua bukan hal yang mudah. Semua orang tua menginginkan hal yang terbaik untuk anaknya, hingga terkadang sampai terlalu memanjakan anak tersebut walaupun dengan tujuan untuk kebaikan anak.

Semakin berkembangnya anak, maka problem-problem yang mereka timbulkan pun semakin banyak. Problem-problem itu seperti: anak malas belajar, bosan sekolah, prestasi menurun, anak kurang nafsu makan, suka menggigit jari, ngompol, dan masalah-masalah lain yang tidak dikehendaki orang tuanya.

Mendidik anak adalah tugas kita sebagai orang tua, dimana kita sebagai orang tua perlu memahami hakikat dan peran dalam membesarkan anak. Lingkungan keluarga dapat dikatakan sebagai lingkungan yang paling utama karena sebagian besar kehidupan anak berada di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling yang paling banyak di terima anak adalah dari orang tua.

Sebuah ungkapan bijak tentang mendidik anak dari Dorothy Law Nolte dalam syair “ Children Learn What The Live”:

  • Bila anak sering dikritik, ia akan belajar mengumpat
  • Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
  • Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
  • Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
  • Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
  • Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
  • Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
  • Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
  • Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya.

Ungkapan ini implementasinya merupakan contoh dari cara mendidik orang tua yang bermacam-macam. Dan melahirkan karakter anak yang bermacam-macam sesuai dengan cara mendidik orang tuanya. Untuk itu diharapkan orang tua menggunakan cara yang tepat dan baik dalam mendidik anak.

Berikut penulis mencoba mengulas beberapa hal cara memandirikan anak dari berbagai sumber:

  1. Ajarkan anak untuk tidak melemparkan kesalahan. Saat anak jatuh tersandung batu/kursi, jangan mengatakan “Batunya nakal” lalu memukul batu/kursi tersebut. Hal ini dapat membuat anak akan menyalahkan pada benda/orang lain dimasa depan.
  2. Biarkan anak bermain dengan bebas dan menjelajahi dunianya. Jangan melarang melakukan hal tersebut, dengan itu anak akan mendapatkan pengalaman eksplorasi untuk dirinya. Dengan melarang justru akan membuat anak semakin penasaran dan akan membahayakan sebab anak akan mencari pelarian yang salah dikemudian hari. Pengawasan sangat diperlukan, bukan melarang anak. Biarkan anak jatuh ditanah, tersiram air dan lain-lain, selama tidak membahayakan (jika lecet, basah, tidak terlalu membahayakan)
  3. Bila anak terlibat masalah di sekolah atau tempat bermain, ketahui dahulu penyebabnya, ditanyakan dahulu pada orang-orang yang terlibat atau melihat kejadian, jangan langsung menyalahkan atau membela anak.
  4. Jika anak mengalami kekecewaan, tidak perlu orang tua langsung bertindak, tunggu beberapa waktu, latih anak untuk menyelesaikan masalahnya. Jika anak terus murung barulah orang tua berusaha membantu mencari jalan keluar.
  5. Biarkan anak belajar dari kesalahannya. Saat anak lupa tugas sekolahnya, sebaiknya orang tua tidak langsung turun ikut membantu anak/mengambil alih tugas anak. Bisa jadi anak akan dihukum oleh gurunya, tapi hal itu akan menjadi pelajaran bagi anak, di masa depan, anak tidak akan lalai lagi.
  6. Jangan membuat mainan/barang sebagai alat untuk membuat anak kembali senang atau bahagia. Hal ini sulit, tetapi harus dilakukan. Orang tua biasanya tidak tega melihat air mata anak, tetapi jika anak kalah dalam sebuah kompetisi, jangan langsung membelikannya mainan atau barang yang anak sukai. Anak akan berfikir semua masalah bisa diselesaikan secara mudah dengan materi.
  7. Pelajari cara ibu-ibu zaman dahulu  merawat anak. Ibu-Ibu zaman dahulu tidak serta merta datang hanya karena anaknya diomeli/dimarahi gurunya. Anak harus belajar menghadapi setiap masalahnya.
  8. Ajari anak untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik terlebih dahulu. Jangan langsung mengadu ke orang tua. Katakan pada anak bahwa ibu dan ayah memang mencintai dan mendukungnya, namun anak juga harus bisa mencari jalan keluarnya sendiri.
  9. Sadarilah bahwa orang tua tidak selalu mampu mengubah keadaan. Jika anak terlambat bangun, apakah orang tua dapat mengundur jam masuk sekolah? Anak harus menghadapinya. Jadilah pendengar yang baik untuk anak, kadang anak tidak memerlukan bantuan orang tua. Anak hanya ingin punya orang yang selalu siap mendengarkan. Ternyata tindakan ini tanpa harus membuka mulut, tetapi sangat penting bagi anak. Berilah jalan keluar atau nasehat jika mereka meminta atau jika kita rasa saatnya memang tepat, selebihnya biarkan anak yang menanganinya.
  10. Jangan tergoda untuk selalu membantu anak atau mengendalikan kehidupannya. Ketika anak mengalami kesusahan, kelihatannya memang lebih mudah untuk langsung turun tangan dari pada membiarkannya belajar hikmah dari kejadian tersebut, tapi ketahuilah bahwa ini jauh lebih bermanfaat baginya dimasa depan. Anak akan tumbuh menjadi orang dewasa yang bijaksana. Ia akan mampu membedakan yang baik dan buruk.
  11. Sadarilah bahwa kita tidak mungkin menciptakan lingkungan yang benar-benar aman untuk anak kita. Orang tua tidak mungkin melindungi anak terus menerus. Jika kita terlalu sering melindungi anak, bisa-bisa anak menjadi kurang pergaulan dan tidak tahu apa-apa. Anak justru tidak bisa bersaing dengan anak lain.
  12. Sebagai orang tua memang harus melindungi anak, merawat anak, akan tetapi sadarilah diri orang tua sendiri juga haruslah dirawat. Bagaimana akan menolong dan membantu anak jika akhirnya orang tuanya menjadi sakit dan anak menjadi terabaikan.
  13. Selalu libatkan partisipasi keluarga lain, seperti Kakek, nenek atau paman anak dalam mendidik anak.

Dalam hal inilah hypnoparenting hadir untuk menjembatani masalah komunikasi antara orangtua dan anak yang kerap kali terjadi. Hypnoparenting berasal dari kata hypnosis dan parenting. Hypnosis berarti upaya mengoptimalkan pemberdayaan energi jiwa bawah sadar (dalam hal ini untuk berkomunikasi) dengan mengistirahatkan energi jiwa sadar pada anak (komunikasi mental) maupun pada pembinanya (komunikasi astral). Parenting berarti segala sesuatu yang berurusan dengan tugas-tugas orangtua dalam mendidik, membina, dan membesarkan anak. Pembinaan anak ini terdiri dari tiga bidang, yakni fisik, mental, dan spiritual sejak merencakan kehamilan sampai masa remaja oleh orang-orang di sekitarnya (orang tua, wali, guru, dsb).

Sikap Orang Tua dalam Mendidik Anak dengan Hypnoparenting

Orang tua sangat berperan penting dalam membangun kemandirian anak. Dalam hypnoparenting, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orang tua, yaitu:

  1. Membuat program pikiran bawah sadar anak yang positif dan konsep diri.

Pikiran bawah sadar tidak bisa menolak apapun yang diterima melalui kelima panca indera. Pikiran bawah sadar juga akan merekam hal-hal yang tidak diperhatikan secara sadar. Kata-kata yang sering diucapkan dan dipikirkan orang tualah yang nantinya akan membentuk diri anak, kemudian anak akan mengembangkan dirinya melalui pergaulan dengan lingungan sekitar. Oleh karena itu, orang tua harus mampu menanamkan konsep diri yang sehat terhadap anak agar anak dapat berperilaku positif.

  1. Menciptakan perasaan positif dan pikiran yang positif.

Ketika anak mulai memasuki sekolah,baik itu kelompok bermain atau taman kanak-kanak, orang tua pasti akan mulai khawatir. Hal seperti ini dapat membawa dampak psikologis bagi anak.

Misalnya saja jika orang tua merasa takut kalau anaknya di sekolah akan jatuh, bermain dengan temannya lalu bertengkar, atau anak belajar tidak sesuai dengan perintah guru, maka secara psikologis akan mempengaruhi kepercayaan orang tua terhadap guru di sekolah anak. Orang tua seakan-akan tidak percaya bahwa bapak-ibu gurunya tidak mampu mendidik anak seperti didikan mereka.

Sebagai orang tua yang baik, hendaknya selalu mempunyai perasaan yang positif terhadap guru serta memberikan kepercayaan penuh terhadap guru bahwa guru juga berpengalaman dalam mendidik anak serta pasti akan memperhatikan anaknya.

Dengan perasaan yang positif, kepercayaan penuh serta pikiran positif orang tua terhadap guru, maka orang tua dan guru akan merasa tenang dan anak akan merasa senang di sekolah.

  1. Memakai kalimat yang positif dan menghindari kalimat negatif.

Segala  sesuatu yang dilarang, penuh tekanan intonasi dan ada emosi di dalamnya, itulah yang akan diingat terus oleh anak ketika ia mendengarnya. Apabila dalam kesehariannya ia sering mendengar kata “jangan” atau “tidak boleh” atau “nakal kamu, ya!” atau “anak yang malas” dan kata-kata negatif lainnya, hampir dipastikan, kata-kata itulah yang selalu didengar dan ditanamkan dalam hati.

Ucapan ibu akan menjadi doa buat anaknya. Jadi jika si ibu mengucap kata-kata negatif terhadap anaknya, maka bisa saja anak itu menjadi anak yang berperilaku negatif pula.

Orang tua yang baik hendaknya memikirkan hal-hal yang positif saja terhadap anaknya, juga berbicara dengan lembut (intonasi tidak meninggi). Kata-kata positif yang diucapkan dengan intonasi yang positif akan ditangkap pikiran bawah sadar anak sebagai kesan positif. Karena perkataan orang tua sangat menentukan proses kemandirian anak, maka hendaknya orang tua mampu mengucapkan kata-kata positif saja di depan anak.

  1. Menciptakan suasana rumah yang positif.

Suasana rumah juga sangat menentukan kemandirian anak. Jika rumah itu harmonis, maka anak akan dapat berperilaku positif. Misalnya saja dalam kamar anak diberi ungkapan-ungkapan positif seperti “Aku Sayang Mama Papa” atau “Aku Mau Jadi Anak Sholeh”, atau kata-kata lain yang apabila setiap dilihat dan dibaca terus menerus maka akan tersimpan dalam memori anak dan akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar anak.

Hal ini akan menumbuhkan sifat dan sikap yang diinginkan oleh orang tua dan anaknya, karena secara otomatis kata-kata itu akan terpatri dalam sanubari dan membentuk jiwa anak.

  1. Menyamakan frekuensi dengan anak.

Orang tua sebaiknya seia-sekata. Maksudnya, tindakan atau perlakuan ayah maupun ibu pada anak sebaiknya seragam dan konsisten. Karena jiwa anak pasti berbau dengan hal-hal yang menyenangkan, gembira, suka hati, dan emosi positif.

Jika suatu saat anak dalam kondisi yang tidak enak atau bad mood hendaknya orang tua mampu menggiringnya ke hal-hal yang disukai anak. Jauhkan dulu apa yang membuat anak menangis, tapi bentuklah pikiran ke arah yang bisa membuat anak gembira. .

Daftar rujukan : Herna, A. (2014). Hebatnya hipnosis anak. Jakarta: Panda Media. Pratomo Yogo Dewi,Dr.MHt. Hypnoparenting, Penerbit Qanita (Mizan), Januari 2012.

 

jumrotun

Oleh: Jumrotun Ni’mah

Mahasiswa Program S2 Keperawatan Anak Stikes A.yani Cimahi

adzniadil@gmail.com